Jumat, 25 Maret 2011

Persib Dan Kerajaan Pajajaran


Bagi sebagian besar masyarakat Jawa Barat yang dihuni oleh mayoritas suku Sunda, Padjadjaran merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, meskipun tidak sedikit dari kita yang tidak mengetahui sejarah sesungguhnya dari kerajaan ini. Kita mungkin hanya tahu nama Siliwangi yang merupakan raja dari Padjadjaran, generasi Sunda di masa sekarang seakan “pareumeun obor” ihwal sejarah Padjadjaran yang lainnya. Meskipun ada yang mengemuka, tetapi kebanyakan cerita itu telah dibumbui oleh berbagai mitos yang kurang masuk akal.
Sesungguhnya Padjadjaran merupakan kerajaan besar yang ada di Nusantara, kerajaan ini merupakan penerus dari Kerajaan Sunda dan Galuh yang dilebur menjadi satu kekuasaan, dibawah kepemimpinan Prabu Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Padjadjaran Sri Sang Ratu Dewata. Oleh masyarakat dan para juru pantun / kawih saat itu, raja ini kemudian sering disebut-sebut sebagai Prabu Siliwangi, karena tradisi di tingkat bawah saat itu, untuk menyebut langsung nama/gelar resmi dari sang raja dirasakan sungkan (pamali). Adapun nama Siliwangi sendiri, diambil dari kata “silih” yang berarti pengganti/menggantikan dan “wangi” yang merujuk pada gelar salah seorang raja Sunda yang termasyhur. Prabu Jayadewata dianggap memiliki kesamaan dengan Prabu Wangi, antara lain sama-sama bijaksana, disegani, dihormati, dan dicintai oleh seluruh rakyat karena kepemimpinannya yang dinilai berhasil membawa kerajaan mencapai puncak keemasan.
Adapun ibukota Padjadjaran terletak di kota Pakuan (Bogor sekarang). Wilayah kekuasaan Padjadjaran, meliputi wilayah yang sangat luas. Kurang lebih meliputi 11 kabupaten di wilayah Jawa Barat - Banten sekarang, dan 4 kabupaten di Jawa Tengah (Kabupaten Banyumas, Cilacap, Tegal, dan Brebes). Di luas wilayah yang terbentang tersebut, terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang menjadi “bawahan” Padjadjaran. Akan tetapi, rakyat dari kerajaan-kerajaan kecil tersebut tetap merasa bangga sebagai bagian dari Padjadjaran. Mereka loyal dan sangat mencintai Padjadjaran, karena kebesaran Padjadjaran yang terkenal hingga seluruh Nusantara.
Waktu berganti, begitu pula dengan raja yang berkuasa di Padjadjaran. Hingga masa kepemimpinan Prabu Seda (sebagai raja ke-6), Kerajaan Padjadjaran mengalami keruntuhan akibat serangan dari Kesultanan Banten. Mengapa Banten yang awalnya notabene merupakan salah satu bagian dari Padjadjaran dan raja banten adalah ketutunan prabu siliwangi akhirnya memutuskan untuk menyerang Padjadjaran? Jawabannya cukup panjang, tetapi intinya, ini hanyalah merupakan perebutan kekuasaan semata (tidak cukup bukti yang kuat untuk meyakini penyerangan ini dilandasi oleh motif perbedaan keyakinan).
Penyerangan Kesultanan Banten terhadap Padjadjaran sebenarnya telah dimulai sejak Prabu Ratu Carita / Nilakendra (raja ke-5) berkuasa di Padjadjaran. Akan tetapi, Pasukan Banten baru berhasil meluluh lantakkan Ibukota Pakuan saat Padjadjaran dibawah kendali Prabu Seda.
Rupanya kegagalan beberapa penyerangan terdahulu telah memberi pelajaran bagi Kesultanan Banten untuk dapat benar-benar menghancurkan Padjadjaran. Dengan memanfaatkan pengkhianat yang merupakan Komandan pengawal benteng Pakuan, akhirnya pasukan Banten berhasil menerobos ke dalam kota. Kekalahan Padjadjaran, ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (tempat duduk raja saat penobatan tahta) dari Pakuan ke Keraton Surasowan di Banten. Mengapa Banten sampai harus membawa Palangka tersebut? Alasannya dengan ketiadaan tempat penobatan tahta, maka tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru di Padjadjaran. Tanpa raja, kerajaan tidaklah disebut kerajaan.
Pakuan sebagai pusat pemerintahan dibumihanguskan oleh pasukan Banten, seluruh ibukota kerajaan, istana beserta simbol-simbol kebesaran Padjadjaran semuanya dihancurkan, tak sedikit pula rakyat Padjadjaran yang gugur. Mengapa Banten melenyapkan Padjadjaran sehingga tanpa meninggalkan jejak sama sekali? Bisa jadi dikarenakan mereka menyadari bahwa Padjadjaran memiliki para ksatria dan dukungan rakyat yang fanatik, yang suatu waktu bisa bangkit kembali untuk mengembalikan kejayaan Padjadjaran, tetapi dengan kondisi yang seolah-olah dibuat lenyap, maka rasanya akan sangat sulit bagi pihak Padjadjaran yang tersisa, untuk menghidupkan kembali kerajaan yang telah dicintainya hingga mendarah daging itu. Itulah mengapa buku sejarah resmi di Republik ini hanya mengupas sedikit saja sejarah Padjadjaran, karena memang mereka (para ahli sejarah) merasa kesulitan mencari bukti peninggalan bahwa Kerajaan Padjadjaran itu benar-benar pernah ada.
Saat Padjadjaran “lenyap” pada tanggal 8 Mei 1579, yang bisa dilakukan oleh rakyatnya yang selamat hanyalah meratap, meski telah bertahun-tahun peristiwa itu berlalu, kecintaan mereka pada Padjadjaran tak pernah luntur. Seorang juru pantun pun menembangkan sebuah syair yang menyayat, bertemakan tentang harapan dan keyakinan bahwa Padjadjaran akan bangkit kembali….. Padjadjaran henteu sirna, tapi tilem ngawun-ngawun, ngan engke bakal ngadeg deui (Pajajaran tidak sirna, tapi hanya menghilang, dan suatu saat akan berdiri kembali).
Apakah syair tersebut merupakan sebuah ramalan? Banyak yang meyakini memang demikian. Maka beberapa orang Sunda, sejak puluhan tahun terakhir mulai bermaksud mewujudkan ramalan tersebut agar tak hanya menjadi angan-angan belaka. Ada yang ingin menghidupkan kembali kejayaan Padjadjaran, mungkin dikarenakan sampai saat ini orang Sunda “suaranya” kurang terdengar di percaturan politik Nasional, ada juga “penipu pemuja mistik” yang mengaku mendapat “wangsit” dari Prabu Siliwangi untuk mendirikan kembali Padjadjaran.
Sebenarnya penulis bukanlah orang yang gemar mempercayai ramalan, tetapi dalam hati kecil penulis, kali ini memiliki kesamaan dengan mereka, yaitu sama-sama meyakini bahwa Padjadjaran akan bangkit kembali. Namun bangkit dengan cara yang berbeda, tanpa raja dan istana, Padjadjaran masih bisa bangkit kembali, “ruh” kebesarannya-lah yang akan hidup kembali. Terlalu naif jika memiliki hasrat untuk mendirikan kembali kerajaan tersebut secara fisik, karena bagaimanapun para pendiri bangsa ini (termasuk beberapa tokohnya yang juga merupakan orang Sunda) telah bersusah payah mendirikan Republik ini hingga menjadi sebuah kesatuan yang kokoh.
Tetapi kini penulis mulai bisa tersenyum bangga, karena baru disadari bahwa Padjadjaran sebenarnya telah benar-benar bangkit kembali, tepatnya sejak tanggal 14 Maret 1933 (354 tahun sejak “lenyapnnya” Padjadjaran).
Siapakah yang telah membangkitkan kembali Padjadjaran? Tak lain dan tidak bukan adalah kesebelasan kebanggaan kita…. PERSIB Bandung !!!. Apa yang menjadi acuan penulis sehingga berani berpendapat demikian, ada beberapa persamaan antara Padjadjaran dengan Persib yang mungkin tidak disadari oleh kita selama ini. Persamaan itu antara lain :
1. Didirikan pertama kali atas dasar penggabungan 2 kekuatan.
• Sunda + Galuh = Padjadjaran,
• Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung ( PSIB ) + National Voetbal Bond (NVB) = Persib.
2. Memiliki pengaruh dalam letak wilayah geografis yang sama.
• Padjadjaran kekuasaannya meliputi Jawa Barat, Banten, dan sebagian wilayah Jawa Tengah perbatasan.
• Persib sekalipun merupakan tim asal kota Bandung, tapi menjadi kebanggan seluruh kota di Jawa Barat, Banten, dan sebagian wilayah Jawa Tengah perbatasan.
3. Inti kekuatan berada di ibu kota.
• Pakuan sebagai pusat kekuatan Padjadjaran merupakan ibu kota kerajaan.
• Bandung sebagai markas Persib merupakan ibu kota provinsi.
4. Merupakan kekuatan besar yang dikenal di seluruh Nusantara dan menjadi kebanggan masyarakat.
• Hanya orang yang buta sejarah, yang tidak mengakui Padjadjaran sebagai salah satu kerajaan besar di Nusantara.
• Hanya orang bodoh, yang tidak mengakui Persib sebagai salah satu tim terbesar di Indonesia! Rasanya tidak ada satu bidang / tokoh pun di Jawa Barat (kecuali mungkin Asep Sunandar dengan wayang golek-nya) yang bisa menjadi pemersatu, sekaligus kebanggan, sekaligus hiburan yang senantiasa dinanti-nanti bagi segenap warga Jawa Barat. Maaf, bukan bermaksud mengecilkan arti para inohong Sunda / bidang dan aspek yang lain, tapi memang begitulah faktanya. Persib tidak bisa sekedar dianggap sebagai klub sepakbola, akan tetapi sudah tumbuh dan menjelma menjadi sebuah kebudayaan masyarakat Jawa Barat. Jadi rasanya sangat pantas apabila pemerintah daerah memberikan apresiasi yang lebih kepada Persib. Meski sekarang zamannya profesional, namun pemberian APBD kepada Persib masih jauh lebih tepat sasaran dibandingkan pemberian APBD untuk program lainnya yang terkadang masih tidak bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Jika ada segelintir orang yang mengaku sebagai wakil masyarakat, baik di tingkat masyarakat bawah maupun eksekutif atau legislatif, yang muncul sebagai “pahlawan kesiangan”, dengan berkoar-koar memberi pernyataan bahwa APBD untuk Persib perlu ditinjau kembali, maka rasanya perlu dipertanyakan lagi kualitas mereka, apa pantas mereka disebut sebagai wakil masyarakat Jawa Barat?.
5. Memiliki pendukung fanatik dan loyal.
• Dalam wilayah Padjadjaran terdapat kerajaan-kerajaan kecil, tetapi rakyat di kerajaan kecil tersebut tetap mencintai dan bangga sebagai bagian dari Padjadjaran.
• Seluruh kota di Jawa Barat memiliki kesebelasan masing-masing, masyarakat kota tersebut tentunya bangga dengan kesebelasannya, tetapi jika Persib bertanding dengan kesebelasan lokal mereka… yang didukung tetaplah Persib !!!. Rasa cinta masyarakat Jawa Barat terhadap Persib, mungkin hanya bisa disamai oleh rasa cinta masyarakat Jawa Timur terhadap Persebaya, Sulawesi Selatan terhadap PSM-nya, Sumatera Utara dengan PSMS-nya, diluar tim-tim itu masih perlu waktu untuk pembuktian loyalitas / kecintaan kepada tim kebanggaannya. Tapi secara jumlah, rasanya hanya pendukung Persebaya yang bisa menyamai Persib. Perlu diketahui, pertandingan final antara Persib vs PSMS yang terjadi tahun 1985 di Stadion Senayan Jakarta (sekarang Gelora Bung Karno), merupakan pertandingan sepakbola amatir yang dihadiri oleh jumlah penonton terbanyak di dunia (150.000 penonton). Rekor ini belum terpecahkan hingga sekarang, dan hampir 95% yang hadir saat itu merupakan bobotoh Persib. Itu yang hadir langsung di stadion, belum lagi yang menyaksikan melalui televisi. Bahkan hingga saat ini, setiap pertandingan Persib, stadion selalu disesaki oleh para bobotoh, dan menurut survey yang dilakukan oleh salah satu lembaga survey independen, acara siaran langsung Persib di salah satu stasiun TV nasional, memegang rating tertinggi dibandingkan dengan program-program unggulan televisi lainnya.
6. Identik dengan Maung
• Maung (harimau) merupakan lambang kerajaan Padjadjaran, maung juga identik dengan Prabu Siliwangi, menurut mitos yang berkembang, di akhir hayatnya beliau dan beberapa pengikutnya yang setia menghilang dan menjelma menjadi maung.
• Pada era akhir 80’an / awal 90’an, Kang Ibing menciptakan dan mempopulerkan lagu “Jung Maju Maung Bandung” untuk mengangkat moral bertanding pemain Persib, dan sejak saat itu julukan “Maung Bandung” terus melekat pada Persib hingga saat ini, disamping julukan “Pangeran Biru” yang sudah identik sebelumnya.
7. Memiliki hubungan yang erat dengan Jawa Timur
• Ada sebuah teori mengatakan bahwa Raden Wijaya raja Majapahit (kerajaan terbesar di Jawa Timur) pertama, merupakan keturunan dari Kerajaan Sunda (cikal bakal Padjadjaran). Pada perkembangan selanjutnya, memang tercatat noda hitam dalam sejarah antara Kerajaan Sunda dan Majapahit, yaitu dengan terjadinya Perang Bubat. Tapi setelah peristiwa itu, dengan kebesaran hati kedua belah pihak, 2 kerajaan besar itu kemudian melupakan peristiwa kelam tersebut dan akhirnya menjadi bersahabat (di masa keruntuhan Majapahit, banyak pengungsi Majapahit yang menyelamatkan diri ke Kerajaan Sunda dan Galuh, dan mereka diterima dengan baik).
• Beberapa tahun terakhir ini, Persib dan Persebaya (kesebelasan terbesar di Jawa Timur) menjalin persahabatan yang bisa dijadikan panutan bagi tim-tim lain di Indonesia. Saat diadakannya beberapa invitasi di Surabaya, mereka selalu mengundang Persib untuk berpartisipasi. Kehadiran Nova Arianto (mantan tulang punggung Persebaya) kini menjadi kekuatan baru Persib. Diperlukan jiwa yang besar untuk melepaskan pemain bintang pada klub lain, dan Persebaya telah membuktikan hal itu dengan merelakan bintangnya bergabung bersama Persib. Pernah juga, ada beberapa kali “gesekan” dalam sejarah persepakbolaan nasional antara supporter Persebaya dengan supporter Persib, terutama di era perserikatan (meski tidak sepanas Perang Bubat). Tapi sejak beberapa tahun terakhir, dengan kebesaran hati kedua belah pihak, 2 supporter terbesar di Indonesia (Viking dan Bonek) akhirnya melupakan peristiwa kelam tersebut dan berikrar untuk menjadi “Satu Hati” (baik Viking maupun Bonek, keduanya diterima dengan baik saat mereka menjadi tamu di kota Bandung atau Surabaya).
8. Tidak mudah ditaklukan
• Padjadjaran merupakan sebuah kekuatan yang disegani oleh pihak manapun. Sekalipun mereka diserang, tetapi mampu bertahan dan berhasil memenangkan pertempuran. Adapun setiap kekalahan yang diderita oleh Padjadjaran dikarenakan pihak musuh menggunakan cara-cara yang curang. Keruntuhan Padjadjaran tidak membuat rakyatnya berpaling pada penguasa baru, mereka tetap setia mencintai Padjadjaran, sekalipun secara fisik sudah tidak ada.
• Tim Indonesia mana yang bisa mengalahkan Persib? Rasanya tidak ada!!! Dengan permainan cantik dan sportif, Persib selalu disegani oleh setiap tim yang coba melawan. Adapun setiap kekalahan Persib, tanyakanlah pada sang pelatih , pasti itu gara-gara pihak pengadil yang berlaku berat sebelah. Karena itu, di kalangan bobotoh Persib, dikenal sebuah jargon yang sangat terkenal, yaitu “Wasit G****G !!!”. Kekalahan, tidak akan membuat Persib ditinggalkan pendukungnya, mereka akan tetap mencintai Persib sampai mati, mungkin bagi mereka yang menginginkan Persib hancur harus belajar pada sejarah Padjadjaran, selain dikalahkan di lapangan, mungkin seluruh pemainnya harus dibunuh, semua pendukungnya harus dibasmi, stadionnya harus dihancurkan (walau hingga saat ini belum jadi-jadi), tempat latihannya harus dibakar, dll, dll….. tanpa semua itu, rasanya tidak ada alasan bagi Persib untuk mati !!!.
anjeun lalaki, getih Siliwangi, nu matak sing gede kawani, ngabela harga diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar